Akan ada banyak cerita dari peristiwa hidupku, faktual maupun imajiner... Semua yang terjadi...Semua yang kupikirkan...
YĆkoso min'na....!!!!! \(n_n)/
Any story in this site expresses to you all about my thoughts, how I see this mother earth, how I amazed by peoples, love, and anything inside it.
How I appreciate everyone of you, to be part of my great world, my great life, and my great dreams.
Wednesday, April 28, 2010
LET’S TALK ABOUT YOU AND YOUR JEALOUSY
Sekitar pukul 23.20
Kamis, 15 Oktober 2009…
LET’S TALK ABOUT YOU AND YOUR JEALOUSY
(Coz’ I’ve been there before… too)
Sebuah ajakan untuk menjadi “an gratefull person”!
Aku selalu bisa menebak dengan yakin, bahwa banyak di antara kalian, yang selalu menyesal dan kecewa akan hidup yang kalian dapati, beberapa lagi sering bermasalah dengan kehidupannya yang tidak selamanya berjalan sebagaimana yang diharapkan. Dulu, jauh seblum saat ini, aku pernah terjebak dalam masalah yang sama, menganggap yang kumiliki saat ini sama sekali bukan apa-apa. Bersumpah serapah saat mendapati semua yang kulakukan ternyata berjalan jauh diluar harapanku, bahkan sia-sia. Semua yang serba penyesalan dan ketidakpuasan.
Pertanyaan-pertanyaan tentang ketidakadilan takdir yang diacungkan padaku, semakin observatif, bahkan aku semakin sering membanding-bandingkan apa yang kumiliki dengan orang lain. Saat itu, kebodohanku sudah cukup jauh membawaku dalam kesimpulan bahwa ini semua tidak adil, seperti: aku yang hanya memiliki “PC bobrok” sementara orang lain menenteng “Komputer Lipat” kemana-mana. Aku harus repot-repot pergi ke tempat yang jauh dari kampus untuk terhubung dengan dunia maya dan melakukan hal-hal sepele yang bisa dilakukan “dengan sangat sepele” oleh teman-temanku yang memiliki Notebook, bahkan tanpa harus membayar dan repot-repot pergi ke tempat lain.
Like I said, I’ve been there before… And U know what?! It’s a real poorly dramatic.
Ini bukan tentang Komputer bobrok versus Notebook, ini juga bukan tentang si “Y” yang bisa dengan lancar menuju kampus saat hujan deras karena mengendarai mobil pribadi, sementara di kos dengan ruang sederhana si “X” menangis dalam hati dan tidak bisa menahan airmata nya saat terpaksa tidak bisa hadir ke kampus karena dia hanya punya sepeda dan tidak punya jas hujan. Juga tidak ada hubungannya dengan aku yang hanya memiliki “Novia 7210” sementara temanku yang lain sudah menggenggang “Bu’Lek Berry Bolot” di tangan mereka. Ini tentang bagaimana mensyukuri apa yang sudah menjadi milik kita, tanpa perlu merasa iri dengan apa yang dimiliki orang lain.
Aku hanya tidak habis pikir, bagaimana mungkin duniaku bisa terus berputar sementara hari-hariku saat itu dipenuhi dengan rasa iri, ketidakberdayaan dan segala kecemasan-kecemasan bodoh yang lain. Merasa memiliki banyak kekurangan-kekurangan yang tak mungkin bisa kulengkapi. Beranggapan bahwa Aku perlu memiliki hal-hal hebat yang orang lain miliki agar aku bisa sehebat dan sebahagia mereka. That’s it! The Bigest problem comes from myself. Terlalu banyak kekurangan, dan itu jelas inti masalahnya.
Jika kalian menganggap, terharu saat menyaksikan film “the Pursuit of Happyness-nya Will Smith” itu adalah Melankolis, maka kalian perlu membantuku mencari istilah lain untuk menggambarkan “Suasana penyesalan dan ketidakpuasan atas diri sendiri dan semua yang telah dimiliki” yang pernah mengidap di diriku. Karena menurutku, kasusku dulu itu yang lebih patut dianggap melankolis. Aku tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa melankolis itu sesuatu yang menyedihkan. Hanyya saja, terharu saat melihat atau mengalami sesuatu yang mengharukan, sama sekali bukan melankolis.
Seperti yang kalian ketahui, bahwa aku sangat senang berbagi pengalaman, maka lewat “scripta”
ini, aku berharap kalian yang masih punya masalah yang coba kugambarkan ini, agar segera sadar bahwa terus menyesali kekurangan itu sama sekali tidak berguna dan sesuatu yang tidak berguna itu sampah. Sampah sudah sepantasnya dikubur, beberapa sangat baik jika dibakar, agar kalian tidak perlu menemukannya lagi jika suatu saat kalian harus menggali untuk mencari sesuatu tentang masa lalu di masa depan kalian nanti. Sekarang, maukah kalian menghilangkan perasaan itu, perasaan bahwa kalian lahir dengan segala ketidakberuntungan yang kalian sesali, agar kalian tidak perlu repot-repot mencari siapa yang bertanggungjawab atas semua itu, dan tentu saja agar kalian selalu bisa bersyukur atas segala yang kita miliki.
Karena aku pernah menderita karena ini, aku tentu tidak ingin kalian mengalaminya. Ini sangat sederhana. Jika ada yang menganggap bahwa semua akan beres dengan cara selalu bersyukur atas segala yang telah kalian miliki saat ini, kalian benar. Hanya saja, kalian melewatkan satu langkah kecil, satu hal sederhana yang jika tidak kalian lakukan, bisa saja membuat kalian kembali dalam masalah ini.
Kupikir kalian tahu jawabannya…
Ya…
“Selalu lihatlah apa yang berada di bawah kita, bukan yang ada di atas”
Dengan begitu, kalian akan mulai terbiasa untuk selalu bersyukur atas apapun yang tidak dan kalian miliki di dunia ini.
Dan untuk menyemmpurnakannyanya, mulai sekarang kalian juga harus sadar dan yakin bahwa sebenarnya, kita semua memiliki segalanya. Tidak ada di dunia ini yang tidak bisa kita miliki selama kita berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkannya dengan cara yang baik. Lagi-lagi, akan ada satu hal lagi yang perlu kita lakukan untuk menyempurnakannya, yaitu Do’a.
Jadi, jika selama ini kalian melihatku belum memiliki sesuatu hal… Sebenarnya aku sudah memilikinya, atau… Aku hanya belum berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkannya.
So… Let’s become much moore gretefull for anything we had and get anything we wanted with biggest will and effort from now on!
Banjarbaru, Ruang Tengah Rumahku.
Tepat pukul 01.12 dini hari
Jum’at, 16 Oktober 2009
KAMPUSKU, RUMAH YANG BERISI KELUARGA BARUKU
Toh...Akhirnya kesampaian juga. Sekarang tinggal berdoa saja, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.
Sebenarnya ada beberapa hal yang saya coba wacanakan melalui tulisan kali ini, hanya saja, seperti biasa, saya sering tidak yakin darimana harus memulainya. Yaaah....Kita lihat saja, seberapa jauh tulisan ini bisa bercerita. Cerita atas sesuatu yang tidak muluk-muluk, tentang SESUATU yang “Tak jauh dimata, tetapi (sayangnya) tak dekat dihati”.
Let’s start with this:
Sahabat, izinkan saya mengingatkan anda bahwa anda tidak perlu ragu sedikitpun untuk berhenti membaca tulisan ini jika memang sama sekali jelek, kerena ini pasti akan menyiksa Anda.
Tulisan ini tentang kampus kita, kampus yang entah sejak kapan Anda semua mengenalnya. Kalau saya sendiri, jujur saja, baru mengenalnya sejak saya “didepak” dari SMA, saya baru benar-benar mengetahui bahwa saya ada di dalamnya bersama lebih dari 4.000 manusia lain, saya baru tahu bahwa Dekan itu istilah untuk pemimpin fakultas, dan pemimpin universitas disebut Rektor, dan saya juga baru tahu beberapa waktu setelah itu bahwa ada istilah ‘keren’ untuk menyebut manusia yang ribuan itu, supaya lebih singkat, yaitu “Civitas Akademika”.
Ketika masih duduk di bangku SMA dulu... (haahaaa....Penggunaan kalimat ‘sempurna’ barusan, jelas sekali merupakan trik murahan dari seorang penulis ‘cap sambal terasi’ yang berusaha agar tulisannya terlihat panjang. Saya melompat aneh ke pembahasan ini, karena saya ingin agar anda memaklumi saya jika tulisan ini (dan tulisan-tulisan saya yang lain) tidak tersusun dalam kata-kata yang diuntaikan dan berbait dengan sempurna. Karena saya tidak ingin masuk dalam kategori penulis berlogo ‘sambal terasi’ tadi. “(^_^)‘Alay.com”. Saya lebih suka jika tulisan itu berisi sesuat yang ‘exactly straight up to the point!’. )... Saya tidak pernah cukup banyak memikirkan tentang Universitas Lambung Mangkurat ini, saya hanya memikirkan hal-hal yang lebih sempit, tentang kenyataan bahwa saya memiliki cita-cita, saya perlu menyatakan ‘cukup!’ dengan pendidikan saya di SMA saat itu dan mulai menetapkan pendidikan tingkat lanjut macam apa yang harus saya ‘nikmati’ untuk menggapai cita-cita itu, tetapi saya tidak pernah membuat suatu keputusan pasti tentang “siapa atau apa” yang nantinya akan dengan sangat baik sekali, bersedia memberikan saya tempat untuk mendapatkan ilmu untuk mencapai cita-cita saya tadi. Kampus saya nantinya. Memang tidak ada yang salah atas apa yang saya lakukan tadi, karena saya yakin sekali bahwa bukan hanya saya saja yang dulu tidak menetapkan pilihan kepada suatu kampus, sebagai peraduan lanjutan setelah lulus SMA. Saya yang tidak cukup pandai ini, dulu berangan-angan untuk bisa kuliah “ITG”, “UDM”, “Unigraw”, bahkan “UE”... Anda juga kaaan???
(*Ga’ boleh sebut merek kampus lain, ntar kena biaya royalti, saya toh sekarang hanya cinta kampus saya saja, tak mau ‘selingkuh’, meskipun nanti toh harus ngelanjutin studi ke universitas lain... Nanti aja, waktu udah kuliah disana aja saya bikin tulisan tentang kampus itu.<(n.n’))
Sekali lagi...Tidak ada yang salah dengan kenyataan bahwa dulu saya, anda dan mereka tidak benar-benar merencanakan berada di kampus ini sejak awal, karena kita semua sejak lahir sering dibisikkan untuk menggantung cita-cita setinggi langit, dan wajar saja kalau kita ingin berada di kampus-kampus yang kata orang-orang “lebih mentereng kayak kelereng di atas seng.^_^”.
Sahabat..... Kita semua berada di sini, di kampus ini, karena Kita berhasil mengungguli sahabat-sahabat kita yang lain, yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan.... Yang sebenarnya ingin sekali ada di posisi kita saat ini.
Dan lagi, sahabatku....Intinya disini adalah, kita semua harus sadar bahwa sekarang, saat ini, kampus inilah rumah kita. Civitas Akademika yang jumlahnya ribuan itu adalah keluarga baru kita, meskipun kebanyakan dari kita tidak saling mengenal, tetapi kita keluar masuk dari ‘pintu rumah’ yang sama. Sudah menjadi keharusan bagi kita semua untuk berhenti tidak peduli dengan kenyataan-kenyataan bahwa kita harusnya bisa memberikan sesuatu kepada rumah dan keluarga baru kita ini, bukannya semata-mata hanya mengambil semua yang bisa disediakan “rumah” ini untuk kita.
Berikanlah sesuatu. Sesuatu yang kecil, tidak perlu sesuatu yang muluk-muluk. Renungkan ini, “ Sebuah Pintu Baja yang besar, bisa membuka dan menutup hanya karena dua Engsel kecil, bukan?!”. Anda semua tentu saja bisa menentukan sendiri, hal sekecil apa sebenarnya yang bisa anda berikan untuk Kampus anda ini, terlepas dari kenyataan-kenyataan bahwa Anda tidak cukup mengenali kampus ini; anda tidak mengenal orang-orang yang setiap hari berjalan hilir-mudik di sekitar anda (terlebih lagi orang-orang lain di fakultas berbeda; anda belum hapal nama lengkap dosen A, B, Z, apalagi tabiat mereka masing-masing; anda tidak mengerti kenapa Anda membayar iuran F, G, M; dan bahkan Anda sampai saat ini masih tidak habis pikir atas beberapa diantara teman-teman Anda mau repot-repot membuang waktu, tenaga dan pikiran untuk sesuatu dengan nama yang anda anggap konyol “organisasi kampus”... Semua ketidakpedulian akan rumah dan keluarga baru Anda itu, harusnya sudah berhenti Anda pelihara sejak pertama kali Anda semua mengenakan Almamater Kuning beberapa waktu yang lalu. Saat Rektor Anda menyatakan bahwa anda semua, yang berdiri hari itu, di lapangan itu, dengan semua kesederhanaan dalam upacara itu, secara resmi dinyatakan sebagai Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat tercinta ini.
Sahabat... Saya harus ingatkan ini kepada Anda sebelum kita semua lupa, bahwa disamping tanggungjawab kepada diri sendiri serta kepada Orang Tua untuk menggapai cita-cita ini, kita semua juga bertanggungjawab untuk menjadi anggota terbaik dari keluarga besar ini, keluarga besar Civitas Akademika Universitas Lambung Mangkurat. Anggota keluarga yang tidak hanya sibuk memikirkan dirinya sendiri. Kita semua harusnya bisa menguatkan Unlam dengan menghilangkan sikap-sikap tidak peduli dan membangun kembali semangat kekeluargaan, kebersamaan dan kebanggan atas siapa kita saat ini. Salah satu dari Civitas Akademika Unlam.
Mungkin tulisan ini tidak akan berarti banyak jika yang kebetulan membacanya adalah seseorang yang memang tidak pernah mau peduli dengan sesuatu yang tidak ada untungnya bagi dirinya sendiri, saya toh juga tidak repot-repot membuat tulisan ini untuk orang-orang seperti mereka, tujuan saya tentu saja untuk sesuatu yang lebih beralasan, lebih berprospek. Saya tentunya, melalui tulisan ini, berharap tulisan ini bisa berarti sesuatu. Sesuatu yang mungkin hanya akan bisa memberikan sebuah inspirasi revolusioner untuk menyadari kenyataan-kenyataan bahwa universitas ini tidak akan mungkin bisa menjadi kuat jika para “civitas akademika” yang harusnya bisa menjadi pemersatu semangat untuk membangun Unlam, justru menjadi pribadi-pribadi pragmatis, intoleran dan masa bodoh satu sama lain. Saya memerlukan orang-orang yang mau membangun Unlam, tidak perlu dengan cara meminta orang tuanya yang seorang pengusaha besar untuk menyumbang sekian Milyar Rupiah untuk kampus ini, tidak... Tidak perlu se’alay itu. Melainkan cukup dengan bersikap peduli satu sama lain, peduli dengan segala yang terjadi di kampus ini, dan berhenti bersikap masa bodoh terhadap segala sesuatu yang tidak ada untungnya bagi dirinya sendiri.
Mungkin tulisan ini tidak akan berarti banyak jika yang kebetulan membacanya adalah seseorang yang memang tidak pernah mau peduli dengan sesuatu yang tidak ada untungnya bagi dirinya sendiri, saya toh juga tidak repot-repot membuat tulisan ini untuk orang-orang seperti mereka, tujuan saya tentu saja untuk sesuatu yang lebih beralasan, lebih berprospek. Melalui tulisan ini, saya tentunya berharap semoga ini bisa berarti sesuatu. Sesuatu yang mungkin akan bisa memberikan sebuah inspirasi revolusioner untuk menyadari kenyataan-kenyataan bahwa universitas ini tidak akan mungkin bisa menjadi kuat jika para “civitas akademika” yang harusnya bisa menjadi pemersatu semangat untuk membangun Unlam, justru menjadi pribadi-pribadi pragmatis, intoleran dan masa bodoh satu sama lain. Rumah ini memerlukan orang-orang yang mau membangun Unlam, tidak perlu dengan cara meminta orang tuanya yang seorang pengusaha besar untuk menyumbang sekian Milyar Rupiah untuk kampus ini, tidak... Tidak perlu se’alay itu. Melainkan cukup dengan bersikap peduli satu sama lain, peduli dengan segala yang terjadi di kampus ini, dan berhenti bersikap masa bodoh terhadap segala sesuatu yang tidak ada untungnya bagi dirinya sendiri.
Jika Unlam yang ditakdirkan terbagi menjadi 2 fragmen, kampus Banjarbaru untuk ilmu eksaksta, dan kampus Banjarmasin untuk ilmu sosial (kecuali FKIP dan Program Studi Ilmu Kedokteran yang sebentar lagi kabarnya akan pindah rumah dengan lokasi gedung perkuliahan di belakang “Kuta Mall”, Banjarmasin), sebagai sebuah masalah yang sangat besar, masalah yang menyebabkan Unlam tidak bisa tumbuh dan berkembang sehebat “UDM”, “ITG” “dan kawan-kawan”. Haduuu,......Sempitnya pemikiran itu, Kawan!
Kita bisa! Bisa sehebat mereka, dan kita semua bisa turut memberikan sumbangsih untuk bisa mewujudkan hal itu.
Sering sekali teori menyebutkan bahwa “Yang paling penting, menguatkan internal dulu. Kalau sudah, baru melangkah ke eksternal”.
Jika teori tadi anda anggap tidak sedikitpun ada hubungannya dengan rencana kita semua untuk membuat Unlam bisa berada setara dengan universitas-universitas ‘parlente’ di Indonesia, anda salah kawan!
Here we go...Meskipun pembangunan fisik dan material merupakan faktor penting, tapi hal itu bukanlah satu-satunya faktor penting.
Bagaimana mungkin, sebuah keluarga bisa sejahtera jika setiap anggota keluarga didalamnya saling bersikap masa bodoh, mana mungkin rumah bisa tetap bersih dan berdiri kokoh sehingga nyaman ditinggali jika orang-orang didalamnya hanya tahu menggunakan tanpa tahu cara merawat, membersihkan dan memperbaiki, dan bagaimana mungkin bisa sebuah rumah dibangun untuk menjadi lebih baik dan lebih besar jika semua anggota keluarga yang ada di dalamnya hanya menggunakan kemampuan atau rejeki yang dimilikinya untuk dirinya sendiri, tidak untuk rumahnya ataupun keluarganya yang lain (yang saya maksud kemampuan dan rejeki di sini bukan hanya sesuatu yang bersifat materii segi materi, tetapi juga sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih kecil, lebih sederhana, apapun bentuknya, selama itu merupakan sesuatu yang bukan “keegoisan dan sikap tidak tahu menahu”, itu adalah sumbangan yang kita semua bisa berikan untuk membuat rumah kita, kampus ini, menjadi kampus yang kuat dan bermartabat.
Hal-hal kecil bisa memberikan efek yang lebih besar...
Jika semua Civitas Akademika Unlam bisa bersatu dalam semangat kebersamaan, kekeluargaan dan kecintaan terhadap kampus ini... Saya yakin, Unlam akan terus menerus menjadi lebih baik.
Tanya bagaimana...?!
Resapi lagi isi tulisan ini, maka kalian akan tahu jawabannya.
“Always dare to think outside the Box...But don’t get it way too far... Coz’, it’s also important to kept away from getting out of your mind”
Sekian kata sambutan ini, atas perhatian nya saya ucapkan terima kasih, apabila ada kekurangan ataupun ke’khilaf’an, saya mohon maaf.
(Lho.....?!)
(0_o’)
Banjarbaru, 2 April 2010
@ 01.30 AM
Bilding Me a Fewchr...
Dear Teachr,
Today, Mommy cryed. Mommy asked me, Jody do you realy know why you are going to school. i said i dont know why?
She said it is caus we are going to be bilding me a fewchr. i said what is a fewchr wats one look like? Mommy said i dont kno Jody, no one can realy see all your fewchr,jest you. Dont wory caus youl see youl see. That when she cryed and sed oh Jody i love you so.
Mommy says every one need to work realy hard for us kids to make our fewchr the nicest one the world can ofer,
Teacher can we start todayto bild me a fewcher? Can you try espeshly hard to make it a nice prity one jest for Mommy and for me?
I love you teacher.
Love,
Jody
Digubah oleh Frank Trujillo
Copyright © 1990, ProTeach Publications. All Rights reserved. (800) 233-3541
Ini, adalah sebuah surat yang dituliskan oleh seorang gadis cilik berumur 5 tahun untuk diberikan kepada gurunya.
Jangan kritik tulisannnya yang sering salah menuliskan beberapa kata serta beberapa tanda baca yang secara tidak sengaja dilewatkannya, sekali lagi “dia hanya anak berumur lima tahun”, mungkin anda harus mengerti bahwa yang dimaksudnya dengan “fewchr adalah kata Future yang berarti Masa Depan” atau Building yang hanya ditulis Jody dengan Bilding (Meskipun tentu saja, ketika diucapkan, tulisan Jody tidak akan bedanya jika dibandingkan dengan penulisan kata yang tepat), saya tidak yakin harus mengartikan seluruh kata-kata ini untuk anda, karena ini bahasa sederhana yang tidak akan mengungkapkan keluguannya jika dialih bahasakan ke bahasa Indonesia, karena saya harus menyesuaikannya dengan istilah umum dan lain sebagainya, saya rasa itu akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap kesan anda atas apa yang ditulis Jody ini.
Kata-kata Jody kecil adalah keajaiban, kejujuran yang penuh kesederhanaan, dan harapan yang hanya bisa dipahami dengan indah jika kita mengerti hal besar apa yang telah dibicarakannya dengan Ibu nya dan diungkapkannya kepada sang guru.
Ini berarti lebih besar dibandingkan sebuah permintaan tolong, Jody tidak tahu lebih banyak daripada kita, orang-orang dewasa yang mungkin sampai saat ini masih mencari-cari jalan dan mengira-ngira wujud masa depan kita nantinya. Jody bahkan mungkin belum mengerti benar apa itu Masa Depan. Anak umur 5 tahun mungkin merasa Masa Depan seperti apa yang diketahuinya dari dongeng pengantar tidur yang selalu indah dibacakan oleh ibu dan ayahnya. Tapi, kita, Anda dan Saya, tentu lebih mengerti seperti apa Masa Depan itu sebenarnya, bukan?!
Di sini, di kampus ini, kita sedang diberi kesempatan untuk menentukan, sejauh apa kita memiliki perbekalan untuk menyusuri masa depan dan hidup didalamnya. Jika kita merasa cukup dengan menyelesaikan semester-semester ini dan mendapatkan nilai akhir yang memuaskan, tanpa melakukan hal lain selain hilir mudik antara Kos atau Rumah Tinggal, Kampus, Kantin, berulang-ulang setiap hari, itu terserah anda. Tiadk ada yang salah dengan itu, sama sekali tidak.
Hanya saja, pertimbangkan ini dengan baik, bukankah hidup tidak cukup hanya dibekali dengan satu jenis “Ransum”, meskipun yaa, tentu saja kita tetap bisa hidup dengan satu Jenis Ransum itu, akan tetapi, bukankah hidup terlalu sederhana jika hanya dilewatkan untuk terus mengumpulkan satu jenis “Ransum” untuk dimasukkan ke dalam tas perbekalan, sementara ada berbagai jenis bekal lain yang bisa kita kumpulkan dan kita bawa untuk bisa lebih siap untuk mengarungi hidup ini menuju masa depan kita?!
Untuk Sahabat-Sahabatku,
We have to Be Care!
Saya tentu saja harus berhati-hati dalam menggunakan kata-kata untuk yang satu ini, tetapi sebelum ini terlalu jauh, saya harus meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada siapapun yang mungkin tidak sependapat atau mengacuhkan tulisan ini dan mungkin juga akan mengabaikan suatu ajakan yang tertulis di dalamnya. Satu hal yang perlu anda semua ketahui, tidak ada satupun usaha untuk membohongi Anda dan jika saya katakan bahwa semua yang tertulis disini fakta, sebaiknya Anda tidak ber-argumen terlalu jauh untuk mematahkannya.
Baiklah… Saya harap pendahuluan tadi, cukup dapat menggambarkan tentang seserius apa tulisan ini dan mari kita lihat, sejauh apa tulisan ini akan menyadarkan Anda, meskipun saya tidak yakin bahwa banyak dari Anda yang benar-benar tidak menyadari hal ini. (Bahkan sampai titik ini, saya belum yakin harus memulainya dari mana).
Anggap saja, tidak “to the point”-nya saya lebih karena saya sengaja membuat Anda bertanya-tanya, apa sebenarnya yang ingin disampaikan tulisan konyol yang satu ini?!. Jika Anda sudah mulai tidak sabar, artinya saya berhasil atas satu hal, dan mungkin gagal dalam hal lain. Tapi setidaknya, jika Anda mendapati bahwa tulisan ini benar-benar sampah, intisari dan pesan terpenting di dalamnya akan lebih lama tersangkut di dalam kepala Anda semua.
Sekarang kita mulai, saya harap ini bisa menghasilkan sesuatu…
Kebanyakan orang di dunia, akan merasa sangat tidak nyaman jika mereka tidak mampu membalas jasa yang telah diberikan seseorang kepada mereka. Saya yakin (dan berharap) Anda semua sependapat dengan hal ini. Saya akan berikan contoh dari pengalaman pribadi saya. Sekitar akhir bulan Juni lalu, saya berangkat keluar Kalimantan untuk tugas Organisasi, dan saya terpaksa tidak bisa segera kembali ke kota asal karena ada beberapa hal yang memaksa saya tinggal lebih lama di sana, dan beruntung saat itu saya memiliki kenalan baru yang ternyata kemudian memberikan jasa tak terlupakan kepada saya. Jasa itu hanya bisa dibalas jika Kampus saya menjadi Tuan Rumah kegiatan Organisasi tersebut dan saya bisa membuat teman baru saya tadi mengalami keramahan yang saya bisa berikan di kampung halaman saya.
Jasa yang tidak bisa kita balas, akan cukup membuat seberkas guratan kepedihan di hati kita. Terlebih lagi jika kita tahu betul bahwa dia (yang telah berjasa pada kita) adalah orang yang memerlukan balasan atas jasa tersebut, meskipun tentu saja lebih banyak dari mereka lebih memilih untuk tidak memintanya secara langsung. Namun, kita tentu bisa mendapati beberapa pemberi jasa yang mengharapkan jasa mereka dihargai dengan beberapa cara halus. Beruntung sekali, kita tidak perlu mencari contoh yang jauh-jauh, karena kita bertemu dan menggunakan jasa mereka hampir setiap hari di Kampus kita tercinta. Benar sekali… Saya membicarakan tentang “Amank-Amank” penjaga kampus kita yang sekaligus juga menjadi juru parkir kampus.
Saya yakin Anda semua tahu betul bahwa mereka tidak mendapatkan gaji yang cukup banyak dari pekerjaan utama mereka dengan status sebagai tenaga penjaga kampus non-karyawan, UMR tentu jauh dari mereka. Mungkin upah kerja yang mereka terima dari Fakultas, menurut hitung-hitungan akuntan ahli dan bersertifikat, sudah merupakan upah yang selayaknya mereka terima. Saya tentu tidak akan menuliskan nominal gaji yang mereka terima, tapi yang jelas, uang bulanan kebanyakan dari kalian yang kalian terima dari orang tua, lebih besar. Bagi seseorang yang telah berkeluarga, jumlah yang mereka terima setiap bulannya dari apa yang mereka kerjakan di Kampus kita, tentu saja tidak cukup baik untuk membuat mereka bisa merencanakan kehidupan yang mapan. Saya berharap, saya tidak perlu menggambarkan lebih jauh lagi tentang kehidupan mereka, agar Anda semua mengerti tentang pentingnya jasa mereka untuk kita balas.
Pihak Fakultas, memberi mereka kesempatan untuk mendapatkan uang tambahan yang mungkin akan mencukupi kebutuhan hidup mereka, yaitu dengan menyerahkan lahan parkir kampus untuk mereka tangani. Kebijakan ini sungguh brilian, pihak Fakultas tentu beranggapan bahwa, dengan begitu para Penjaga Kampus bisa lebih terbantu dari segi pendapatan diluar gaji bulanan.
Pertanyaannya sekarang adalah… Benarkah mereka memang benar-benar mendapatkan cukup uang tambahan dari jasa mereka sebagai juru parkir? Atau sebaliknya, mereka justru hanya mendapatkan media pengurasan waktu dan tenaga tanpa menghasilkan uang tambahan?
Kita lah yang paling bertanggung jawab jika ternyata, mereka tidak mendapatkan apapun atas tenaga yang mereka keluarkan sebagai juru parkir kampus kita.
Saya mohon, renungkanlah tentang seberapa pantas kita membalas jasa mereka terhadap kita.
Saya tidak meminta Anda semua untuk selalu merogoh kocek dan mengelurkan uang Rp 1.000 setiap harinya untuk biaya parkir motor Anda di kampus (Tapi jika Anda mampu dan tidak masalah dengan hal itu, kenapa tidak?). Kalian semua tentu bisa menimbang-nimbang, dan kalian bisa menyesuaikannya dengan uang saku yang kalian miliki.
Kita tidak akan jatuh miskin hanya karena mengeluarkan sedikit uang yang memang sudah sepantasnya kita keluarkan.
Saya akan coba gambarkan pertimbangan logis tentang sesuatu yang berhubungan dengan masalah ini… Saya punya contoh konkritnya.
“Anda semua tentu pernah dan mungkin sering memarkir motor di lokasi-lokasi yang ada juru parkirnya, terutama di daerah ruko-ruko di sepanjang Jalan A. Yani km.35-40 (our big neighborhood, eh?!). Kalian memarkir di lokasi A, hanya 5 menit, bahkan si juru parkir tidak melakukan apapun dengan motor Anda, dia tidak perlu menggesernya se-inchi-pun, tidak menutupinya dengan kardus untuk menghindari panas, tidak membantu anda saat anda meninggalkan area parkir, tidak ini, tidak itu… Dan uang Rp 1.000 wajib anda keluarkan. Apakah itu cukup adil bagi Anda?”
Tentu banyak yang berkata tidak… Tapi itu sering Anda alami bukan?!
Sekarang bandingkan dengan apa yang dilakukan Amank parkir di kampus kita? Kalian yang tergesa-gesa datang ke kampus karena terlambat masuk kuliah, dan memarkir motor atau mobil kalian di lokasi parkir dan mengacaukan segala kerapiannya, teronggok menantang terik matahari, yang mampu memuaikan bodi plastik dan memudarkan cat motor atau mobil kalian. Detik demi detik perkuliahan kalian lalui dengan mengkhawatirkan motor kalian yang mungkin akan meleleh beberapa saat lagi diluar sana, dan ternyata saat kalian selesai kuliah, kalian mendapati motor kalian sudah disusun dengan rapi di tempat teduh atau ditutupi dengan kardus pelindung. Bukankah itu merupakan jasa dan kalian patut memberikan imbalan kepada orang yang memberikan jasa tersebut.
Saya tidak akan memberikan patokan berapa nilai yang patut kalian berikan atas jasa yang kalian terima dari mereka, Anda semua jelas mampu memberikan pertimbangan-pertimbangan berapa nominal yang logis diberikan atas jasa mereka terhadap anda. Jika Anda merasa hari ini tidak ada yang dilakukan Amank parkir atas motor anda, anda tidak selalu perlu membayarnya, tapi jika besok jasa itu kembali diberikan, bukankah itu berarti kita perlu membalasnya?!
Saudaraku, uang yang kita keluarkan untuk membalas jasa mereka, tidak akan membuat kita semua tidak mampu membeli makan untuk seminggu, bukan?! Jangan latih hati kita untuk menjadi sekeras batu dan tidak memikirkan nasib orang-orang yang telah berjasa pada kita, terlebih saat kita tahu pasti bahwa mereka membutuhkannya.
Sekian.
Renungkanlah...
Ruang Tengah Rumahku
Minggu, 18 Oktober 2009
@ 4.22 am
Wednesday, September 9, 2009
Mengubah Dunia (Bagian I)
Entah berapa banyak orang yang memiliki impian untuk dapat mengubah Dunia. Hanya saja, yang aku tahu pasti, aku adalah salah satu diantaranya.
Manusia kecil ini merasa impian itu bukanlah sesuatu yang mustahil,dan terlihat keren jika nanti kusampaikan pada kesempatan-kesempatan tertentu, ulang tahunku misalnya, sehingga aku meletakkannya pada urutan teratas dari impian-impian lain di kepalaku, dan tercatat dengan “rapi” pada buku kecil coklat tua pemberian ayahku. Awalnya hanya 9 macam, sekarang, seiring perjalanan hidupku, jumlahnya menjadi seperti sekarang, satu impian utama, dan sembilan puluh sembilan impian kecil-kecil, itu pun, selalu saja beranak-pinak.
Keluargaku, Ayah, Bunda dan Kakakku... Tidak pernah melarangku untuk berimajinasi, setinggi-tingginya imajinasi, tidak akan memberikan efek buruk padaku. Mereka percaya, hal itu akan menciptakan kebaikan untuk ku, suatu saat, dengan caranya sendiri.
Impian kecil anak manusia yang masih takut tidur sendirian, jarang sekali bonafit, tapi impian-impianku, terutama yang nomor 1 itu, entah sebutan apa yang paling layak untuknya. Tentu saja jauh diluar bonafit, mungkin tepat disebut “Mewah”. Yaa.... Mewah! Luxurious! Briliant! Impianku, mewah sekali. Merubah dunia!
Pemilik impian itu, adalah makhluk yang saat impian itu pertama kali muncul dikepalanya, masih dengan sangat bangga mengenakan mahkota dari karton, ditambah properti berupa pedang plastik yang ujungnya bengkok karena terlalu sering berperang dengan Naga penyembur api, yang tak lain dan tak bukan hanyalah kakakku yang mengenakan sarung menutupi kepalanya sambil bermain game di depan televisi. Kakak ku yang terpaksa bermain dengan “start-pause-start-pause”, demi meladeni adik kecilnya yang sesekali muncul dari belakang sofa ruang keluarga untuk menebas leher “sang naga” sambil berteriak, “ Telliiimaaa iniii, Naga Melaaaah!!”. Yaa... Aku yang sedendam itu dengan “Naga Merah”.
Tapi kalian harus tahu bahwa, impian-impian yang terus bertambah itu, tidak pernah menggeser impian nomor 1 milikku. Mengubah Dunia. Si Mewah dan Brilian. Karena impian itu, benar-benar tidak pernah gagal membuatku menunda tidur selama lima menit tiap malam, memikirkan seperti apa caranya. Sedangkan, impian-impian lainnya yang 99 macam tadi, satu demi satu, sedikit demi sedikit terwujud.
Kalian perlu tahu, impian-impian kecil itu, semuanya hebat-hebat!
Nomor 96: Membunuh Naga Merah. (Berhasil, Senin sore, 27 Mei 1991)
(Berhasil karena memang pada sore itu, kakak dilarikan ke dokter karena matanya terkena pedang palsu-ku. Sejak itu, tak ada lagi Naga Merah.
Bunda yang selalu naik pitam saat melihat aku memegang “Pedangku” sambil mengintai kakak di balik Sofa. Kakak tidak, dia hanya tersenyum, padahal matanya pernah hampir buta)
Nomor 89: Menang main ular tangga melawan Iwan. (Berhasil, Minggu, 7 Juli 1991)
(Tidak ada kecurangan, tidak ada tragedi apapun, hanya menang! Menang dengan sendirinya saat dadu ku memunculkan angka 4. Tapi tetap saja, itu hari bersejarah bagiku)
Nomor 66: Dapat hadiah 17-an (Berhasil, Sabtu, 17 Agustus 1994)
(Waktu itu, dengan luar biasa, si Roby yang sudah hampir mencapai finish lebih dulu, (aku di urutan kedua) menjatuhkan kelereng di atas sendok yang digigit “tonggos”nya, gara-gara Sinta (Adiknya yang umurnya belum ganjil 5 tahun) tiba-tiba muncul dan mencoba memeluk kakaknya. Tak perlu kronologis lebih lanjut, intinya: Maka, jadilah aku pemenangnya)
Nomor 90: Punya kelereng satu kaleng biskuit. (Punya, Sabtu, 14 September 1991)
(Bukan karena jago, tapi lebih karena keberuntungan... Saat itu, Ayah meminta Kakak untuk membantunya membenahi gudang. Diantara tumpukan barang ini-itu, kakak menemukan kelereng yang dulu adalah “harta” miliknya di dalam kaleng biskuit. Akulah pewaris tunggal pada saat itu. Hanya saja, jumlahnya tak sampai 20 sebulan kemudian. Kakak hanya tersenyum mengetahui hal itu. Dia adalah kakak terbaik sedunia! Percayalah.)
Sekarang usiaku hampir 7 tahun. Malam ini, sebagimana biasanya, diakhiri dengan 5 menit berimajinasi, membayangkan rencana-rencana apa saja yang bisa kulakukan untuk merubah dunia. Dunia dimataku saat itu, saat umurku bahkan belum ditulis dengan dua digit, terlalu mengerikan. Sebentar-sebentar muncul monster, untung ada superhero yang berhasil mengalahkan mereka. Hanya saja, aku yakni, pasti akan tiba saat dimana mereka berhasil dikalahkan monster-monster itu. Mungkin, saat itulah aku akan bisa mewujudkan impianku. Aku akan merubah dunia dengan, menyelamatkannya dari Monster! Aha... Besok Aku akan bertanya kepada Bunda, sejauh apa Jepang dari rumahku. Dunia perlu dirubah dengan menghentikan kemunculan monster-monster itu... Sumbernya dari Jepang. Mereka sering muncul di sana. Aku takut mereka muncul di Indonesia tak lama lagi. Jadi Aku akan cari sumbernya, di suatu tempat di Jepang. Juga di Amerika. Hanya saja, moster dari Amerika sudah bisa ditangani oleh jagoan yang berlima itu. Mereka bahkan punya robot hebat. Tak perlu pikirkan Amerika. Toh Jepang lebih dekat dengan Indonesia. “Sesama di benua Asia” kata Kakak.
Sekarang, waktunya tidur. Banyak pertanyaan yang harus dijawab Bunda, Ayah dan Kakak besok. Bu guru juga. Beliau pernah menyebutkan Jepang beberapa kali waktu mengajari kami cara melipat kertas dan membentuknya menjadi kodok aneh.
******
Hari-hariku selalu dipenuhi dengan kebahagiaan, suka cita, pengalaman dan imajinasi! Semakin bertambah umurku, semakin banyak impian-impianku terwujud. Impian ku yang terwujud baru-baru ini adalah....Diperbolehkan bermain layang-layang menggunakan benang gelasan. Dulu, hal itu mustahil. Mulai sekarang, tidak lagi. Aku lagi-lagi bahagia telah mewujudkan impian, meskipun sebenarnya bukan aku yang mewujudkan, melainkan Bunda.... Kuharap kalian juga.
Kalian ingin tahu sebuah rahasia? Rahasia yang akan membuat kalian mungkin bisa sedikit menyaingiku. “Buatlah impian-impian baru sebelum tidur setiap hari, jika kalian belum mengantuk. Atau paling tidak, pikirkan cara untuk mewujudkan impian kalian yang pernah gagal. Karena, impian-impian lah yang membuat bumi ini terus berputar”. Ayahku hebat bukan?! Rahasia itu pernah dibisikkannya kepadaku saat membaca buku kecil pemberiannya.
Seiring kedewasaan, yang sebenarnya tidak kuharapkan, aku mulai menemukan sebuah fakta... Umurku sekarang ditulis dua digit, 10 tahun, dan aku sekarang tahu bahwa Monster yang ada di Televisi itu, jauh sekali dari nyata! Semata-mata hanya tipuan, berupa kostum sinting yang dikenakan oleh manusia yang tidak lebih besartingginya dengan Ayah! Padahal, di televisi, gedung yang lebih tinggi daripada menara masjid di komplekku, hancur ketika diinjaknya. Berikut pula jagoan idolaku, yang kuanggap luar biasa karena bisa menjadi raksasa, sebesar monster pengacau tadi, dengan mengacungkan remote control di tangnnya, kostumnya menjadi merah-biru. Ternyata, monster tidak ada. Bukan yang ada di Televisi, tidak ada di Jepang. Dulu, aku menetapkan diriku sebagai pendukung pahlawan ku dari jepang, karena aku merasa kasihan, dia berjuang sendirian. Jagoan dari Amerika yang kostumnya warna-warni itu, kupikir cukup kuat melawan Monster. Mereka berlima. Tak butuh dukunganku. Tapi sekarang, saat aku tahu tak ada Monster di Jepang, aku punya jagoan baru. Berlima dari Amerika yang melawan moster-monster dengan robot mereka. Yang membuatku takut sekarang hanya monster dari Amerika.
Berarti, nanti Aku akan pergi ke Amerika untuk merubah dunia. Setahuku, cukup dengan menghancurkan markas musuh, monster di Amerika akan berhenti muncul. Kata Kakak, di Amerika, harus hati-hati dengan orang Indian. Mereka ramah, tapi tidak mengeri bahasa inggris.
******
Anything Goes Like We All Hope (Testimoni Rakoorwil 4 ILMMIPA)
Jelas sekali, sebagai yang “dilayani”, kami perlu menyampaikan ribuan pernyataan terimakasih atas apa yang telah teman-teman panitia Rakolwil IV ILMMIPA lakukan sehingga tak seorangpun dari kami (para delegasi peserta) yang layak memberikan kritik berlebih dari usaha-usaha brilian yang panitia terus upayakan dalam kegiatan tahunan ini.
Mari kita mulai testimonial ini dari sudut pandang saya, Muhammad A. Renaldi, Ketua BEM FMIPA UNLAM 2009-2010.
Sebagai organisasi mahasiswa yang baru pertama kali bergabung dalam ikatan keluarga istimewa ini, BEM FMIPA Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan merasa sangat terhormat bisa berada di tengah-tengah kekompakan dan rasa kebersamaan yang ditunjukkan oleh para peserta lain yang berhadir dalam Rakolwil IV tahun ini. Meskipun tidak sedikit dari kami yang merupakan peserta perdana, tapi toh, tidak perlu waktu lama untuk saling mengakrabkan diri. Bahkan, saya sendiri yakin, bahwa tidak pernah muncul sikap saling jaga image (Jaim) antara kami (para delegasi pria).
Bisa mengenal pribadi-pribadi luar biasa sekaligus belajar dari mereka, tentu saja merupakan pengalaman yang saat tulisan ini saya buat, tak henti-hentinya hati dan mulut ini tersenyum simpul. Mengingat keluarga-keluarga baru ku yang rata-rata memiliki kepribadian lebih dari satu. Sering sekali saya beranggapan bahwa, perlu tindakan lebih dari sekedar berjabat tangan untuk memulai segala sesuatu dengan orang yang baru dikenal… Sekarang, dengan referensi mutlak, yakni pengalaman sendiri, hal-hal seperti SKSD (sok kenal sok dekat) juga perlu diaplikasikan, karena sering sekali, segala sesuatu yang terlalu formal, tidak terlalu berkesan bagi kebanyakan orang. Saya sendiri, sering telah melupakan nama orang yang baru 15 detik lalu berjabat tangan dengan saya. Sebagai manusia, kita memang dituntut untuk siap bermoderasi kapanpun.
Belum lama bertemu, kami sudah tahu pasti, bahwa ada satu manusia yang luar biasa orisinil
Seiring dengan waktu, semakin bermunculan sifat-sifat personal yang sekali lagi, tidak pernah coba ditutup-tutupi. Bagaimana tidak, belum apa-apa, sudah ada teman kami yang mendeklarasikan diri sebagai “pemicu konflik”, bahkan pada detik-detik kritikal, dengan luar biasa, membuat mendidih kepala ketua BEM tuan rumah, dengan menginjak-injak sertifikat kegiatan yang notabene bisa diibaratkan sebagai harga diri panitia penyelenggara karena berhiaskan Stempel Lembaga tertinggi Kampus (Stempel Fakultas) serta lembaga tertinggi mahasiswa sekaligus (Stempel BEM). Bahkan, seandainya saat itu yang bersangkutan berhasil mendapatkan pemantik api lebih cepat (sebelum saya membisiki bahwa itu jelas “lelucon yang bodoh sekali”), maka habislah sertifikat tadi menjadi abu.
Peserta sidang yang berani menentang presidium dengan serta merta bernyanyi sebelum diizinkan, gumpalan kertas yang dilemparkan kepada presidium sidang I, serta air mata yang menetes akibat emosi yang terlampau menguap, merupakan ekstrapolasi kurva sidang yang biasanya membosankan. Nampaknya, menjadi presidium sidang ditengah-tengah kebrutalan fantastis ini, merupakan pengalaman yang pantas untuk diceritakan kepada sahabat-sahabatku sekalian. Untungnya, tidak benar-benar ada kursi yang dilemparkan ke meja sidang, meskipun beberapa kali terlontar dari para peserta.
Segala kebrutalan itu, merupakan skenario yang kami (para delegasi pria) susun, untuk memberikan kenangan yang tak terlupakan, tanpa sedikitpun maksud untuk mempermainkan sidang yang terhormat ataupun panitia yang luar biasa tadi.
Intinya, kesan manis sudah terasa sejak awal kebersamaan kita, semakin mengikat sepanjang waktu, hingga menorehkan kata-kata tak terungkapkan tentang aku, kamu, dan kita.
Senang mengenal kalian semua, sahabat!
Scripta manent, verba Volant!
@ 07.28 pm
Saturday, July 4, 2009
Tentang Kritisnya Kondisi UNLAM
DETIK-DETIK KRITIKAL UNLAM
(Tulisan ini, tentu agar kalian yang lagi “pingsan”, segera tersadar!)
Oleh: The Whisperer of Truth!
Muhammad A. Renaldi
Jelas sekali bahwa persentase jumlah civitas akademika, terutama Mahasiswa, yang mau peduli dan turut memperhatikan pergolakan apa saja yang sedang terjadi selama UNLAM sedang dalam tahapan pencarian pemimpin baru tahun 2009 ini, jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah mereka yang tahu pasti bahwa petinju kebanggaan Negara ini, batal bertanding melawan rivalnya di penghujung bulan Juli nanti gara-gara keracunan oksigen.
Ironis memang, tetapi kenyataannya memang seperti itu. Absurdisme yang terjadi di Kampus ini, sebenarnya telah lama membuat penulis merasa, ada yang salah dengan “kejiwaan” pejuang almamater kuning keramat yang lain, sahabat-sahabatku, mahasiwa. Mereka teracuni terlampau parah oleh sikap tidak peduli, yang mengakar secara luar biasa karena rutin diberi “pupuk” bermerek “Only Think ‘bout myself”.
Saat terakhir saya melakukan aksi bersama orang-orang hebat (yang saat itu jumlahnya terlalu sedikit) untuk berusaha menarik masa, berteriak dari satu kampus ke kampus lain, untuk sama-sama memperjuangkan penghormatan aspirasi perwakilan civitas akademika di hadapan para Senat akhir bulan Mei lalu, ada sekitar 7 pesan singkat yang masuk ke handphone saya, dari kenalan-kenalan saya di tiap kampusyang kami datangi. Seluruhnya berisi pesan yang intinya, “Mending nyantai di kantin, daripada teriak-teriak tanpa hasil!” . SMS-SMS itu tak sanggup saya balas. Manusia rendahan bisa kumaklumi kalau mengirimiku komentar seperti itu, tetapi ini kenalan saya. Saya jenis manusia yang tidak sembarangan memilih kenalan. Saya kecewa.
Kebanyakan dari mahasiswa UNLAM saat ini, lebih peduli dengan hal-hal yang mereka anggap akan memberikan manfaat terbesar untuk diri sendiri, padahal seandainya otak mereka benar-benar “sehebat” otak saya, mereka akan sadar bahwa, siapa yang memimpin, dialah yang menentukan. Tentu saja yang bisa ditentukan oleh sang pemimpin lebih dari sekedar nasib saya dan anda, tetapi juga nasib kampus ini. Pernahkah anda membayangkan, jika ternyata Rektor kita nanti adalah tipe manusia yang gampang khilaf, dan tiba-tiba saja UNLAM dua tahun kemudian menjadi Universitas invalid?! Bagaimana nasib kita semua?! Bagaimana jika tiba-tiba biaya kuliah per semester tidak lagi ratusan ribu, melainkan jutaan rupiah?!
Sadarlah kawan! Janganlah kalian membiarkan nasib kita, nasib UNLAM tercinta kedepan ditentukan saat kalian sedang tertidur lelap, menikmati ketidakpedulian!
JANGAN BIARKAN KAMI BERJUANG SENDIRI
Gerakan yang sedang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiwa yang bersikukuh memperjuangkan aspirasi yang telah jelas-jelas dianggap sampah oleh 27 orang senat, dianggap penuh dengan keambiguan. Bagaimanapun juga, perjuangan untuk dihormatinya aspirasi civitas akademika dalam proses penjaringan yang telah secara mutlak menunjukkan salah satu calon Rektor sebagai pemenang suara yang hampir 70%, lebih dilakukan karena kami tidak ingin demokrasi yang berlaku di Universitas ini, “diperkosa” secara terang-terangan oleh keluarga sendiri.
Para manusia yang pikirannya pendek, pasti akan menganggap bahwa gerakan mahasiswa dalam memperjuangkan aspirasi civitas akademika, atas nama Aliansi Mahasiswa UNLAM Bersatu, merupakan aksi yang dimotori oleh salah satu nama calon. Marilah sedikit panjangkan akal, sebelum menyimpulkan sesuatu. Saya perlu sampaikan disini bahwa “Kami, mahasiswa yang tergabung dalam aksi itu, memiliki idealisme yang lebih tinggi dibandingkan apapun di dunia!”. Kami hanya yakin bahwa, tidak mungkin Kami hanya tidak ingin, budaya yang sedang gencar-gencarnya diberantas oleh para idealis, yakni pelecehan atas demokrasi, terjadi di kampus ini.
Saya tentu saja tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa calon yang memiliki suara senat tertinggi tidak pantas menjadi Rektor UNLAM, karena bagaimanapun juga, beliau tentu saja merupakan tokoh yang hebat, memiliki andil dalam membangun UNLAM. Hanya saja, saya tidak yakin bahwa penilaian oleh civitas akademika yang jumlahnya lebih dari 300 orang, ditampik secara luar biasa oleh 27 orang senat. Padahal, tentu saja suara pemilih yang tidak sedikit tadi, (387 suara Dosen, 167 suara perwakilan Mahasiswa, 63 Karyawan), layak dijadikan sebagai cerminan bahwa, sosok calon Rektor yang memenangkan suara civitas akademika ini, merupakan yang paling pantas menjadi Rektor UNLAM periode 2009-2013.
Saya merasa perlu mengajak Anda untuk berpikir layaknya manusia dewasa dalam kasus ini. Bayangkan, bagaimana mungkin Anda mengatakan bahwa tidak ada masalah di dalam “lingkaran Senat” saat dalam suatu tahap penentuan keputusan pemberian suara oleh senat, dimana pemilihan dilakukan dengan mempertimbangkan hasil pemilihan yang dilakukan oleh civitas akademika (seluruh dosen UNLAM, Kabag TU, dan Pengurus inti organisasi Mahasiswa UNLAM), calon yang jelas-jelas hampir mencapai persentase suara sebesar 70%, justru kalah suara! Dianggap apa suara para pemilih?! Sampah sekalipun, pun masih ada harganya. Jelas-jelas suara yang merupakan aspirasi rakyat, mereka nilai lebih rendah dari sampah.
Seandainya saja, cukup banyak “manusia” UNLAM yang sadar dengan ketidakadilan ini, maka, setidaknya saya akan bisa mengubah pandangan saya tentang kebanyakan “manusia” UNLAM yang ada di sekitar saya, yang tidak mau ambil peduli dengan Absursdisme ini. Sampai sekarang, maaf saja, saya menganggap mereka tidak patut mendapat sertifikat kelulusan dari Kampus ini. Tidak layak disebut Mahasiswa UNLAM, apalagi Alumnus UNLAM. Saya rasa, lebih baik mereka cepat-cepat pergi dari Kampus ini. Toh mereka tidak menganggap Kampus ini sebagai rumah mereka.
Sahabat, segeralah sadar!
Segeralah mulai peduli!
Kalian memiliki Kampus ini!
Kampus ini rumah kalian...
Rumah kita sedang “gawat darurat”, jangan seolah-olah buta dan tuli!