Akan ada banyak cerita dari peristiwa hidupku, faktual maupun imajiner... Semua yang terjadi...Semua yang kupikirkan...
YĆkoso min'na....!!!!! \(n_n)/
Any story in this site expresses to you all about my thoughts, how I see this mother earth, how I amazed by peoples, love, and anything inside it.
How I appreciate everyone of you, to be part of my great world, my great life, and my great dreams.
Wednesday, April 28, 2010
We have to Be Care!
Saya tentu saja harus berhati-hati dalam menggunakan kata-kata untuk yang satu ini, tetapi sebelum ini terlalu jauh, saya harus meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada siapapun yang mungkin tidak sependapat atau mengacuhkan tulisan ini dan mungkin juga akan mengabaikan suatu ajakan yang tertulis di dalamnya. Satu hal yang perlu anda semua ketahui, tidak ada satupun usaha untuk membohongi Anda dan jika saya katakan bahwa semua yang tertulis disini fakta, sebaiknya Anda tidak ber-argumen terlalu jauh untuk mematahkannya.
Baiklah… Saya harap pendahuluan tadi, cukup dapat menggambarkan tentang seserius apa tulisan ini dan mari kita lihat, sejauh apa tulisan ini akan menyadarkan Anda, meskipun saya tidak yakin bahwa banyak dari Anda yang benar-benar tidak menyadari hal ini. (Bahkan sampai titik ini, saya belum yakin harus memulainya dari mana).
Anggap saja, tidak “to the point”-nya saya lebih karena saya sengaja membuat Anda bertanya-tanya, apa sebenarnya yang ingin disampaikan tulisan konyol yang satu ini?!. Jika Anda sudah mulai tidak sabar, artinya saya berhasil atas satu hal, dan mungkin gagal dalam hal lain. Tapi setidaknya, jika Anda mendapati bahwa tulisan ini benar-benar sampah, intisari dan pesan terpenting di dalamnya akan lebih lama tersangkut di dalam kepala Anda semua.
Sekarang kita mulai, saya harap ini bisa menghasilkan sesuatu…
Kebanyakan orang di dunia, akan merasa sangat tidak nyaman jika mereka tidak mampu membalas jasa yang telah diberikan seseorang kepada mereka. Saya yakin (dan berharap) Anda semua sependapat dengan hal ini. Saya akan berikan contoh dari pengalaman pribadi saya. Sekitar akhir bulan Juni lalu, saya berangkat keluar Kalimantan untuk tugas Organisasi, dan saya terpaksa tidak bisa segera kembali ke kota asal karena ada beberapa hal yang memaksa saya tinggal lebih lama di sana, dan beruntung saat itu saya memiliki kenalan baru yang ternyata kemudian memberikan jasa tak terlupakan kepada saya. Jasa itu hanya bisa dibalas jika Kampus saya menjadi Tuan Rumah kegiatan Organisasi tersebut dan saya bisa membuat teman baru saya tadi mengalami keramahan yang saya bisa berikan di kampung halaman saya.
Jasa yang tidak bisa kita balas, akan cukup membuat seberkas guratan kepedihan di hati kita. Terlebih lagi jika kita tahu betul bahwa dia (yang telah berjasa pada kita) adalah orang yang memerlukan balasan atas jasa tersebut, meskipun tentu saja lebih banyak dari mereka lebih memilih untuk tidak memintanya secara langsung. Namun, kita tentu bisa mendapati beberapa pemberi jasa yang mengharapkan jasa mereka dihargai dengan beberapa cara halus. Beruntung sekali, kita tidak perlu mencari contoh yang jauh-jauh, karena kita bertemu dan menggunakan jasa mereka hampir setiap hari di Kampus kita tercinta. Benar sekali… Saya membicarakan tentang “Amank-Amank” penjaga kampus kita yang sekaligus juga menjadi juru parkir kampus.
Saya yakin Anda semua tahu betul bahwa mereka tidak mendapatkan gaji yang cukup banyak dari pekerjaan utama mereka dengan status sebagai tenaga penjaga kampus non-karyawan, UMR tentu jauh dari mereka. Mungkin upah kerja yang mereka terima dari Fakultas, menurut hitung-hitungan akuntan ahli dan bersertifikat, sudah merupakan upah yang selayaknya mereka terima. Saya tentu tidak akan menuliskan nominal gaji yang mereka terima, tapi yang jelas, uang bulanan kebanyakan dari kalian yang kalian terima dari orang tua, lebih besar. Bagi seseorang yang telah berkeluarga, jumlah yang mereka terima setiap bulannya dari apa yang mereka kerjakan di Kampus kita, tentu saja tidak cukup baik untuk membuat mereka bisa merencanakan kehidupan yang mapan. Saya berharap, saya tidak perlu menggambarkan lebih jauh lagi tentang kehidupan mereka, agar Anda semua mengerti tentang pentingnya jasa mereka untuk kita balas.
Pihak Fakultas, memberi mereka kesempatan untuk mendapatkan uang tambahan yang mungkin akan mencukupi kebutuhan hidup mereka, yaitu dengan menyerahkan lahan parkir kampus untuk mereka tangani. Kebijakan ini sungguh brilian, pihak Fakultas tentu beranggapan bahwa, dengan begitu para Penjaga Kampus bisa lebih terbantu dari segi pendapatan diluar gaji bulanan.
Pertanyaannya sekarang adalah… Benarkah mereka memang benar-benar mendapatkan cukup uang tambahan dari jasa mereka sebagai juru parkir? Atau sebaliknya, mereka justru hanya mendapatkan media pengurasan waktu dan tenaga tanpa menghasilkan uang tambahan?
Kita lah yang paling bertanggung jawab jika ternyata, mereka tidak mendapatkan apapun atas tenaga yang mereka keluarkan sebagai juru parkir kampus kita.
Saya mohon, renungkanlah tentang seberapa pantas kita membalas jasa mereka terhadap kita.
Saya tidak meminta Anda semua untuk selalu merogoh kocek dan mengelurkan uang Rp 1.000 setiap harinya untuk biaya parkir motor Anda di kampus (Tapi jika Anda mampu dan tidak masalah dengan hal itu, kenapa tidak?). Kalian semua tentu bisa menimbang-nimbang, dan kalian bisa menyesuaikannya dengan uang saku yang kalian miliki.
Kita tidak akan jatuh miskin hanya karena mengeluarkan sedikit uang yang memang sudah sepantasnya kita keluarkan.
Saya akan coba gambarkan pertimbangan logis tentang sesuatu yang berhubungan dengan masalah ini… Saya punya contoh konkritnya.
“Anda semua tentu pernah dan mungkin sering memarkir motor di lokasi-lokasi yang ada juru parkirnya, terutama di daerah ruko-ruko di sepanjang Jalan A. Yani km.35-40 (our big neighborhood, eh?!). Kalian memarkir di lokasi A, hanya 5 menit, bahkan si juru parkir tidak melakukan apapun dengan motor Anda, dia tidak perlu menggesernya se-inchi-pun, tidak menutupinya dengan kardus untuk menghindari panas, tidak membantu anda saat anda meninggalkan area parkir, tidak ini, tidak itu… Dan uang Rp 1.000 wajib anda keluarkan. Apakah itu cukup adil bagi Anda?”
Tentu banyak yang berkata tidak… Tapi itu sering Anda alami bukan?!
Sekarang bandingkan dengan apa yang dilakukan Amank parkir di kampus kita? Kalian yang tergesa-gesa datang ke kampus karena terlambat masuk kuliah, dan memarkir motor atau mobil kalian di lokasi parkir dan mengacaukan segala kerapiannya, teronggok menantang terik matahari, yang mampu memuaikan bodi plastik dan memudarkan cat motor atau mobil kalian. Detik demi detik perkuliahan kalian lalui dengan mengkhawatirkan motor kalian yang mungkin akan meleleh beberapa saat lagi diluar sana, dan ternyata saat kalian selesai kuliah, kalian mendapati motor kalian sudah disusun dengan rapi di tempat teduh atau ditutupi dengan kardus pelindung. Bukankah itu merupakan jasa dan kalian patut memberikan imbalan kepada orang yang memberikan jasa tersebut.
Saya tidak akan memberikan patokan berapa nilai yang patut kalian berikan atas jasa yang kalian terima dari mereka, Anda semua jelas mampu memberikan pertimbangan-pertimbangan berapa nominal yang logis diberikan atas jasa mereka terhadap anda. Jika Anda merasa hari ini tidak ada yang dilakukan Amank parkir atas motor anda, anda tidak selalu perlu membayarnya, tapi jika besok jasa itu kembali diberikan, bukankah itu berarti kita perlu membalasnya?!
Saudaraku, uang yang kita keluarkan untuk membalas jasa mereka, tidak akan membuat kita semua tidak mampu membeli makan untuk seminggu, bukan?! Jangan latih hati kita untuk menjadi sekeras batu dan tidak memikirkan nasib orang-orang yang telah berjasa pada kita, terlebih saat kita tahu pasti bahwa mereka membutuhkannya.
Sekian.
Renungkanlah...
Ruang Tengah Rumahku
Minggu, 18 Oktober 2009
@ 4.22 am
Wednesday, September 9, 2009
Mengubah Dunia (Bagian I)
Entah berapa banyak orang yang memiliki impian untuk dapat mengubah Dunia. Hanya saja, yang aku tahu pasti, aku adalah salah satu diantaranya.
Manusia kecil ini merasa impian itu bukanlah sesuatu yang mustahil,dan terlihat keren jika nanti kusampaikan pada kesempatan-kesempatan tertentu, ulang tahunku misalnya, sehingga aku meletakkannya pada urutan teratas dari impian-impian lain di kepalaku, dan tercatat dengan “rapi” pada buku kecil coklat tua pemberian ayahku. Awalnya hanya 9 macam, sekarang, seiring perjalanan hidupku, jumlahnya menjadi seperti sekarang, satu impian utama, dan sembilan puluh sembilan impian kecil-kecil, itu pun, selalu saja beranak-pinak.
Keluargaku, Ayah, Bunda dan Kakakku... Tidak pernah melarangku untuk berimajinasi, setinggi-tingginya imajinasi, tidak akan memberikan efek buruk padaku. Mereka percaya, hal itu akan menciptakan kebaikan untuk ku, suatu saat, dengan caranya sendiri.
Impian kecil anak manusia yang masih takut tidur sendirian, jarang sekali bonafit, tapi impian-impianku, terutama yang nomor 1 itu, entah sebutan apa yang paling layak untuknya. Tentu saja jauh diluar bonafit, mungkin tepat disebut “Mewah”. Yaa.... Mewah! Luxurious! Briliant! Impianku, mewah sekali. Merubah dunia!
Pemilik impian itu, adalah makhluk yang saat impian itu pertama kali muncul dikepalanya, masih dengan sangat bangga mengenakan mahkota dari karton, ditambah properti berupa pedang plastik yang ujungnya bengkok karena terlalu sering berperang dengan Naga penyembur api, yang tak lain dan tak bukan hanyalah kakakku yang mengenakan sarung menutupi kepalanya sambil bermain game di depan televisi. Kakak ku yang terpaksa bermain dengan “start-pause-start-pause”, demi meladeni adik kecilnya yang sesekali muncul dari belakang sofa ruang keluarga untuk menebas leher “sang naga” sambil berteriak, “ Telliiimaaa iniii, Naga Melaaaah!!”. Yaa... Aku yang sedendam itu dengan “Naga Merah”.
Tapi kalian harus tahu bahwa, impian-impian yang terus bertambah itu, tidak pernah menggeser impian nomor 1 milikku. Mengubah Dunia. Si Mewah dan Brilian. Karena impian itu, benar-benar tidak pernah gagal membuatku menunda tidur selama lima menit tiap malam, memikirkan seperti apa caranya. Sedangkan, impian-impian lainnya yang 99 macam tadi, satu demi satu, sedikit demi sedikit terwujud.
Kalian perlu tahu, impian-impian kecil itu, semuanya hebat-hebat!
Nomor 96: Membunuh Naga Merah. (Berhasil, Senin sore, 27 Mei 1991)
(Berhasil karena memang pada sore itu, kakak dilarikan ke dokter karena matanya terkena pedang palsu-ku. Sejak itu, tak ada lagi Naga Merah.
Bunda yang selalu naik pitam saat melihat aku memegang “Pedangku” sambil mengintai kakak di balik Sofa. Kakak tidak, dia hanya tersenyum, padahal matanya pernah hampir buta)
Nomor 89: Menang main ular tangga melawan Iwan. (Berhasil, Minggu, 7 Juli 1991)
(Tidak ada kecurangan, tidak ada tragedi apapun, hanya menang! Menang dengan sendirinya saat dadu ku memunculkan angka 4. Tapi tetap saja, itu hari bersejarah bagiku)
Nomor 66: Dapat hadiah 17-an (Berhasil, Sabtu, 17 Agustus 1994)
(Waktu itu, dengan luar biasa, si Roby yang sudah hampir mencapai finish lebih dulu, (aku di urutan kedua) menjatuhkan kelereng di atas sendok yang digigit “tonggos”nya, gara-gara Sinta (Adiknya yang umurnya belum ganjil 5 tahun) tiba-tiba muncul dan mencoba memeluk kakaknya. Tak perlu kronologis lebih lanjut, intinya: Maka, jadilah aku pemenangnya)
Nomor 90: Punya kelereng satu kaleng biskuit. (Punya, Sabtu, 14 September 1991)
(Bukan karena jago, tapi lebih karena keberuntungan... Saat itu, Ayah meminta Kakak untuk membantunya membenahi gudang. Diantara tumpukan barang ini-itu, kakak menemukan kelereng yang dulu adalah “harta” miliknya di dalam kaleng biskuit. Akulah pewaris tunggal pada saat itu. Hanya saja, jumlahnya tak sampai 20 sebulan kemudian. Kakak hanya tersenyum mengetahui hal itu. Dia adalah kakak terbaik sedunia! Percayalah.)
Sekarang usiaku hampir 7 tahun. Malam ini, sebagimana biasanya, diakhiri dengan 5 menit berimajinasi, membayangkan rencana-rencana apa saja yang bisa kulakukan untuk merubah dunia. Dunia dimataku saat itu, saat umurku bahkan belum ditulis dengan dua digit, terlalu mengerikan. Sebentar-sebentar muncul monster, untung ada superhero yang berhasil mengalahkan mereka. Hanya saja, aku yakni, pasti akan tiba saat dimana mereka berhasil dikalahkan monster-monster itu. Mungkin, saat itulah aku akan bisa mewujudkan impianku. Aku akan merubah dunia dengan, menyelamatkannya dari Monster! Aha... Besok Aku akan bertanya kepada Bunda, sejauh apa Jepang dari rumahku. Dunia perlu dirubah dengan menghentikan kemunculan monster-monster itu... Sumbernya dari Jepang. Mereka sering muncul di sana. Aku takut mereka muncul di Indonesia tak lama lagi. Jadi Aku akan cari sumbernya, di suatu tempat di Jepang. Juga di Amerika. Hanya saja, moster dari Amerika sudah bisa ditangani oleh jagoan yang berlima itu. Mereka bahkan punya robot hebat. Tak perlu pikirkan Amerika. Toh Jepang lebih dekat dengan Indonesia. “Sesama di benua Asia” kata Kakak.
Sekarang, waktunya tidur. Banyak pertanyaan yang harus dijawab Bunda, Ayah dan Kakak besok. Bu guru juga. Beliau pernah menyebutkan Jepang beberapa kali waktu mengajari kami cara melipat kertas dan membentuknya menjadi kodok aneh.
******
Hari-hariku selalu dipenuhi dengan kebahagiaan, suka cita, pengalaman dan imajinasi! Semakin bertambah umurku, semakin banyak impian-impianku terwujud. Impian ku yang terwujud baru-baru ini adalah....Diperbolehkan bermain layang-layang menggunakan benang gelasan. Dulu, hal itu mustahil. Mulai sekarang, tidak lagi. Aku lagi-lagi bahagia telah mewujudkan impian, meskipun sebenarnya bukan aku yang mewujudkan, melainkan Bunda.... Kuharap kalian juga.
Kalian ingin tahu sebuah rahasia? Rahasia yang akan membuat kalian mungkin bisa sedikit menyaingiku. “Buatlah impian-impian baru sebelum tidur setiap hari, jika kalian belum mengantuk. Atau paling tidak, pikirkan cara untuk mewujudkan impian kalian yang pernah gagal. Karena, impian-impian lah yang membuat bumi ini terus berputar”. Ayahku hebat bukan?! Rahasia itu pernah dibisikkannya kepadaku saat membaca buku kecil pemberiannya.
Seiring kedewasaan, yang sebenarnya tidak kuharapkan, aku mulai menemukan sebuah fakta... Umurku sekarang ditulis dua digit, 10 tahun, dan aku sekarang tahu bahwa Monster yang ada di Televisi itu, jauh sekali dari nyata! Semata-mata hanya tipuan, berupa kostum sinting yang dikenakan oleh manusia yang tidak lebih besartingginya dengan Ayah! Padahal, di televisi, gedung yang lebih tinggi daripada menara masjid di komplekku, hancur ketika diinjaknya. Berikut pula jagoan idolaku, yang kuanggap luar biasa karena bisa menjadi raksasa, sebesar monster pengacau tadi, dengan mengacungkan remote control di tangnnya, kostumnya menjadi merah-biru. Ternyata, monster tidak ada. Bukan yang ada di Televisi, tidak ada di Jepang. Dulu, aku menetapkan diriku sebagai pendukung pahlawan ku dari jepang, karena aku merasa kasihan, dia berjuang sendirian. Jagoan dari Amerika yang kostumnya warna-warni itu, kupikir cukup kuat melawan Monster. Mereka berlima. Tak butuh dukunganku. Tapi sekarang, saat aku tahu tak ada Monster di Jepang, aku punya jagoan baru. Berlima dari Amerika yang melawan moster-monster dengan robot mereka. Yang membuatku takut sekarang hanya monster dari Amerika.
Berarti, nanti Aku akan pergi ke Amerika untuk merubah dunia. Setahuku, cukup dengan menghancurkan markas musuh, monster di Amerika akan berhenti muncul. Kata Kakak, di Amerika, harus hati-hati dengan orang Indian. Mereka ramah, tapi tidak mengeri bahasa inggris.
******
Anything Goes Like We All Hope (Testimoni Rakoorwil 4 ILMMIPA)
Jelas sekali, sebagai yang “dilayani”, kami perlu menyampaikan ribuan pernyataan terimakasih atas apa yang telah teman-teman panitia Rakolwil IV ILMMIPA lakukan sehingga tak seorangpun dari kami (para delegasi peserta) yang layak memberikan kritik berlebih dari usaha-usaha brilian yang panitia terus upayakan dalam kegiatan tahunan ini.
Mari kita mulai testimonial ini dari sudut pandang saya, Muhammad A. Renaldi, Ketua BEM FMIPA UNLAM 2009-2010.
Sebagai organisasi mahasiswa yang baru pertama kali bergabung dalam ikatan keluarga istimewa ini, BEM FMIPA Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan merasa sangat terhormat bisa berada di tengah-tengah kekompakan dan rasa kebersamaan yang ditunjukkan oleh para peserta lain yang berhadir dalam Rakolwil IV tahun ini. Meskipun tidak sedikit dari kami yang merupakan peserta perdana, tapi toh, tidak perlu waktu lama untuk saling mengakrabkan diri. Bahkan, saya sendiri yakin, bahwa tidak pernah muncul sikap saling jaga image (Jaim) antara kami (para delegasi pria).
Bisa mengenal pribadi-pribadi luar biasa sekaligus belajar dari mereka, tentu saja merupakan pengalaman yang saat tulisan ini saya buat, tak henti-hentinya hati dan mulut ini tersenyum simpul. Mengingat keluarga-keluarga baru ku yang rata-rata memiliki kepribadian lebih dari satu. Sering sekali saya beranggapan bahwa, perlu tindakan lebih dari sekedar berjabat tangan untuk memulai segala sesuatu dengan orang yang baru dikenal… Sekarang, dengan referensi mutlak, yakni pengalaman sendiri, hal-hal seperti SKSD (sok kenal sok dekat) juga perlu diaplikasikan, karena sering sekali, segala sesuatu yang terlalu formal, tidak terlalu berkesan bagi kebanyakan orang. Saya sendiri, sering telah melupakan nama orang yang baru 15 detik lalu berjabat tangan dengan saya. Sebagai manusia, kita memang dituntut untuk siap bermoderasi kapanpun.
Belum lama bertemu, kami sudah tahu pasti, bahwa ada satu manusia yang luar biasa orisinil
Seiring dengan waktu, semakin bermunculan sifat-sifat personal yang sekali lagi, tidak pernah coba ditutup-tutupi. Bagaimana tidak, belum apa-apa, sudah ada teman kami yang mendeklarasikan diri sebagai “pemicu konflik”, bahkan pada detik-detik kritikal, dengan luar biasa, membuat mendidih kepala ketua BEM tuan rumah, dengan menginjak-injak sertifikat kegiatan yang notabene bisa diibaratkan sebagai harga diri panitia penyelenggara karena berhiaskan Stempel Lembaga tertinggi Kampus (Stempel Fakultas) serta lembaga tertinggi mahasiswa sekaligus (Stempel BEM). Bahkan, seandainya saat itu yang bersangkutan berhasil mendapatkan pemantik api lebih cepat (sebelum saya membisiki bahwa itu jelas “lelucon yang bodoh sekali”), maka habislah sertifikat tadi menjadi abu.
Peserta sidang yang berani menentang presidium dengan serta merta bernyanyi sebelum diizinkan, gumpalan kertas yang dilemparkan kepada presidium sidang I, serta air mata yang menetes akibat emosi yang terlampau menguap, merupakan ekstrapolasi kurva sidang yang biasanya membosankan. Nampaknya, menjadi presidium sidang ditengah-tengah kebrutalan fantastis ini, merupakan pengalaman yang pantas untuk diceritakan kepada sahabat-sahabatku sekalian. Untungnya, tidak benar-benar ada kursi yang dilemparkan ke meja sidang, meskipun beberapa kali terlontar dari para peserta.
Segala kebrutalan itu, merupakan skenario yang kami (para delegasi pria) susun, untuk memberikan kenangan yang tak terlupakan, tanpa sedikitpun maksud untuk mempermainkan sidang yang terhormat ataupun panitia yang luar biasa tadi.
Intinya, kesan manis sudah terasa sejak awal kebersamaan kita, semakin mengikat sepanjang waktu, hingga menorehkan kata-kata tak terungkapkan tentang aku, kamu, dan kita.
Senang mengenal kalian semua, sahabat!
Scripta manent, verba Volant!
@ 07.28 pm
Saturday, July 4, 2009
Tentang Kritisnya Kondisi UNLAM
DETIK-DETIK KRITIKAL UNLAM
(Tulisan ini, tentu agar kalian yang lagi “pingsan”, segera tersadar!)
Oleh: The Whisperer of Truth!
Muhammad A. Renaldi
Jelas sekali bahwa persentase jumlah civitas akademika, terutama Mahasiswa, yang mau peduli dan turut memperhatikan pergolakan apa saja yang sedang terjadi selama UNLAM sedang dalam tahapan pencarian pemimpin baru tahun 2009 ini, jauh lebih sedikit dibandingkan jumlah mereka yang tahu pasti bahwa petinju kebanggaan Negara ini, batal bertanding melawan rivalnya di penghujung bulan Juli nanti gara-gara keracunan oksigen.
Ironis memang, tetapi kenyataannya memang seperti itu. Absurdisme yang terjadi di Kampus ini, sebenarnya telah lama membuat penulis merasa, ada yang salah dengan “kejiwaan” pejuang almamater kuning keramat yang lain, sahabat-sahabatku, mahasiwa. Mereka teracuni terlampau parah oleh sikap tidak peduli, yang mengakar secara luar biasa karena rutin diberi “pupuk” bermerek “Only Think ‘bout myself”.
Saat terakhir saya melakukan aksi bersama orang-orang hebat (yang saat itu jumlahnya terlalu sedikit) untuk berusaha menarik masa, berteriak dari satu kampus ke kampus lain, untuk sama-sama memperjuangkan penghormatan aspirasi perwakilan civitas akademika di hadapan para Senat akhir bulan Mei lalu, ada sekitar 7 pesan singkat yang masuk ke handphone saya, dari kenalan-kenalan saya di tiap kampusyang kami datangi. Seluruhnya berisi pesan yang intinya, “Mending nyantai di kantin, daripada teriak-teriak tanpa hasil!” . SMS-SMS itu tak sanggup saya balas. Manusia rendahan bisa kumaklumi kalau mengirimiku komentar seperti itu, tetapi ini kenalan saya. Saya jenis manusia yang tidak sembarangan memilih kenalan. Saya kecewa.
Kebanyakan dari mahasiswa UNLAM saat ini, lebih peduli dengan hal-hal yang mereka anggap akan memberikan manfaat terbesar untuk diri sendiri, padahal seandainya otak mereka benar-benar “sehebat” otak saya, mereka akan sadar bahwa, siapa yang memimpin, dialah yang menentukan. Tentu saja yang bisa ditentukan oleh sang pemimpin lebih dari sekedar nasib saya dan anda, tetapi juga nasib kampus ini. Pernahkah anda membayangkan, jika ternyata Rektor kita nanti adalah tipe manusia yang gampang khilaf, dan tiba-tiba saja UNLAM dua tahun kemudian menjadi Universitas invalid?! Bagaimana nasib kita semua?! Bagaimana jika tiba-tiba biaya kuliah per semester tidak lagi ratusan ribu, melainkan jutaan rupiah?!
Sadarlah kawan! Janganlah kalian membiarkan nasib kita, nasib UNLAM tercinta kedepan ditentukan saat kalian sedang tertidur lelap, menikmati ketidakpedulian!
JANGAN BIARKAN KAMI BERJUANG SENDIRI
Gerakan yang sedang dilakukan oleh mahasiswa-mahasiwa yang bersikukuh memperjuangkan aspirasi yang telah jelas-jelas dianggap sampah oleh 27 orang senat, dianggap penuh dengan keambiguan. Bagaimanapun juga, perjuangan untuk dihormatinya aspirasi civitas akademika dalam proses penjaringan yang telah secara mutlak menunjukkan salah satu calon Rektor sebagai pemenang suara yang hampir 70%, lebih dilakukan karena kami tidak ingin demokrasi yang berlaku di Universitas ini, “diperkosa” secara terang-terangan oleh keluarga sendiri.
Para manusia yang pikirannya pendek, pasti akan menganggap bahwa gerakan mahasiswa dalam memperjuangkan aspirasi civitas akademika, atas nama Aliansi Mahasiswa UNLAM Bersatu, merupakan aksi yang dimotori oleh salah satu nama calon. Marilah sedikit panjangkan akal, sebelum menyimpulkan sesuatu. Saya perlu sampaikan disini bahwa “Kami, mahasiswa yang tergabung dalam aksi itu, memiliki idealisme yang lebih tinggi dibandingkan apapun di dunia!”. Kami hanya yakin bahwa, tidak mungkin Kami hanya tidak ingin, budaya yang sedang gencar-gencarnya diberantas oleh para idealis, yakni pelecehan atas demokrasi, terjadi di kampus ini.
Saya tentu saja tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa calon yang memiliki suara senat tertinggi tidak pantas menjadi Rektor UNLAM, karena bagaimanapun juga, beliau tentu saja merupakan tokoh yang hebat, memiliki andil dalam membangun UNLAM. Hanya saja, saya tidak yakin bahwa penilaian oleh civitas akademika yang jumlahnya lebih dari 300 orang, ditampik secara luar biasa oleh 27 orang senat. Padahal, tentu saja suara pemilih yang tidak sedikit tadi, (387 suara Dosen, 167 suara perwakilan Mahasiswa, 63 Karyawan), layak dijadikan sebagai cerminan bahwa, sosok calon Rektor yang memenangkan suara civitas akademika ini, merupakan yang paling pantas menjadi Rektor UNLAM periode 2009-2013.
Saya merasa perlu mengajak Anda untuk berpikir layaknya manusia dewasa dalam kasus ini. Bayangkan, bagaimana mungkin Anda mengatakan bahwa tidak ada masalah di dalam “lingkaran Senat” saat dalam suatu tahap penentuan keputusan pemberian suara oleh senat, dimana pemilihan dilakukan dengan mempertimbangkan hasil pemilihan yang dilakukan oleh civitas akademika (seluruh dosen UNLAM, Kabag TU, dan Pengurus inti organisasi Mahasiswa UNLAM), calon yang jelas-jelas hampir mencapai persentase suara sebesar 70%, justru kalah suara! Dianggap apa suara para pemilih?! Sampah sekalipun, pun masih ada harganya. Jelas-jelas suara yang merupakan aspirasi rakyat, mereka nilai lebih rendah dari sampah.
Seandainya saja, cukup banyak “manusia” UNLAM yang sadar dengan ketidakadilan ini, maka, setidaknya saya akan bisa mengubah pandangan saya tentang kebanyakan “manusia” UNLAM yang ada di sekitar saya, yang tidak mau ambil peduli dengan Absursdisme ini. Sampai sekarang, maaf saja, saya menganggap mereka tidak patut mendapat sertifikat kelulusan dari Kampus ini. Tidak layak disebut Mahasiswa UNLAM, apalagi Alumnus UNLAM. Saya rasa, lebih baik mereka cepat-cepat pergi dari Kampus ini. Toh mereka tidak menganggap Kampus ini sebagai rumah mereka.
Sahabat, segeralah sadar!
Segeralah mulai peduli!
Kalian memiliki Kampus ini!
Kampus ini rumah kalian...
Rumah kita sedang “gawat darurat”, jangan seolah-olah buta dan tuli!
THE 21 INDISPENSABLE QUALITIES OF A LEADER
THE 21 INDISPENSABLE QUALITIES OF A LEADER
(21 Kualitas Kepemimpinan Sejati)
JOHN C. MAXWELL
KARAKTER: Jadilah Bagian dari Batu Karang
KARISMA: Kesan Pertamalah yang Terpenting
KOMITMEN: Inilah yang Membedakan Pelaku dari Pemimpi
KOMUNIKASI: Tanpanya Anda Akan Menempuh Perjalanan Sendirian
KOMPETENSI: Jika Anda Membangunnya, Mereka Akan Datang
KEBERANIAN: Satu Orang dengan Keberanian Sama dengan Mayoritas
PENGERTIAN: Tuntaskanlah Misteri-misteri yang Belum Terselesaikan
FOKUS: Semakin Tajam Fokus Anda, Anda Semakin Tajam
KEMURAHAN HATI: Lilin Anda Takkan Rugi Jika Menerangi Orang Lain
INISIATIF: Tanpanya, Anda Takkan ke Mana-mana
MENDENGARKAN: Untuk Menyelami Hati Mereka, Bukalah Telinga Anda
SEMANGAT YANG TINGGI: Cintailah Hidup Ini
SIKAP POSITIF: Jika Anda Percaya Bisa, Anda Pasti Bisa
PEMECAHAN MASALAH: Janganlah Biarkan Berbagai Persoalan Anda Menjadi Masalah
HUBUNGAN: Jika Anda Akur, Merekapun Akur
TANGGUNG JAWAB: Jika Anda Tidak Mau Membawa Bolanya, Anda Takkan Dapat Memimpin Timnya
KEMAPANAN: Kompetensi Takkan Pernah Dapat Mengkompensasikan Ketidakmapanan
DISIPLIN DIRI: Orang Pertama yang Anda Pimpin Adalah Diri Sendiri
KEPELAYANAN: Agar Maju, Dahulukanlah Orang Lain
SIKAP MAU DIAJAR: Untuk Terus Memimpin, Teruslah Belajar
VISI: Anda Dapat Meraih Hanya yang Dapat Anda Lihat
Sahabat, saya baru saja mendapatkan “postulat-postulat” luar biasa ini, saya akan sangat senang jika kalian mau merenungkannya bersamaku...
Sahabat, kalian yang begitu mengenal diriku...
Saat kalian menemukan ada dari 21 kualifikasi itu yang jauh sekali dariku... Ceritakanlah kepadaku.
Aku mencintai kalian saat kalian juga belajar, seperti yang kulakukan....
Banjarbaru, July 2nd
The Great 2009
@ 11.17 pm
Tuesday, June 30, 2009
Farewell for this Month
Lihatlah..
Bulan ini berakhir, dan apa yang sudah kalian lakukan...???
Bayangkan....
Dunia sebagai Manusia
Benua sebagai Organ Tubuh
Negara Sebagai Jaringan
Manusia Sebagai Sel
Bukankah Dunia adalah manusia yang sedang Sakit?!
Pikirkan....
Seberapa parah sakit Dunia?
Renungkan....
Sampai kapan dunia mampu bertahan?
Simpulkan....
Seberapa besar Anda, sebagai sel, yang menjadi penyebab Dunia sakit?
Pertimbangkan....
Anda berhenti bermutasi menjadi sel perusak!
Pastikan....
Anda memulainya sekarang!
Yakinlah....
Anda ditakdirkan menjadi “Stem cell” yang bisa memberikan penyembuhan melalui pesan-pesan yang Anda sampaikan kepada sel lain melalui kepedulian, aksi dan komitmen!
Perhatikan bagaimana sel-sel lain dengan sendirinya melakukan regenerasi dengan pesan-pesan yang Anda sampaikan.
Lihatlah betapa bahagia Anda saat dunia kembali tersenyum, tersenyum untuk Anda!
An ordinary notes for earth
As a farewell for this month.
Goodbye, June 2009!
Writen @: Banjarbaru, June 30th.
on 11.55 pm
The Party of Imaginary
Ini pesta harian di kepala saya, yang sering kali hanya sekedar berlangsung dan menari-nari di dalam kepala, tetapi juga tidak sedikit dari mereka yang saya coba dokumentasikan ke dalam tulisan-tulisan yang sering naik turun tingkat kelayakannya untuk dibaca.
Meskipun ini adalah pestanya khayal milik saya, tentu saja banyak fakta-fakta yang mendasari khayalan-khayalan itu.
Hanya saja, penting sekali bagi saya untuk berbagi dengan Anda semua atas hal-hal yang saya ketahui dan tidak, karena tak banyak yang bisa saya lakukan untuk menjadi lebih dari orang lain, tanpa bermaksud membesar-besarkan bagaimana saya bangga dengan diri saya sendiri kepada Anda semua, tetapi setidaknya Anda mengerti bahwa ini hanyalah usaha saya untuk berusaha menjadi seseorang yang bisa memberikan manfaat bagi orang lain di sekitarnya.
Saya ingin sekali mengundang Anda semua untuk bergabung dalam pesta-pesta ini, setidaknya, tulisan-tulisan inilah hal terkecil yang saya bisa berikan untuk Anda. Saya akan senang sekali jika Anda juga mengundang saya dalam pesta-pesta yang Anda miliki. Mulailah sebih sering “berpesta”!
Ceritakan tentang pesta kalian kepadaku!